Wisata Dunia Dimulai di Batukaras

0
1451
Komunitas Clear memotivasi para realwan melaui penghargaan. (Andi Nurroni/SwaraPangandaran)

 

Komunitas Clear memotivasi para realwan melaui penghargaan. (Andi Nurroni/SwaraPangandaran)
Komunitas Clear memotivasi para realwan melaui penghargaan. (Andi Nurroni/SwaraPangandaran)

Cijulang, SwaraPangandaran.Com – Menjadikan Kabupaten Pangandaran sebagai destinasi wisata dunia agaknya baru sebatas cita-cita Bupati Pangandaran yang baru saja dilantik. Upaya menata kawasan wisata serta mendorong perubahan pola pikir dan perilaku masyarakat, otomatis masih sebatas guratan-guratan di atas kertas.

Tapi optimisme tidak selalu lahir dari kebijakan pemerintah. Di kawasan wisata Pantai Batukaras, Kecamatan Cijulang, sekelompok masyarakat telah bergerak secara mandiri. Mereka menamai dirinya komunitas “Clear”. Kelompok ini kadang juga disebut “Clear Batukaras” atau “Batukaras Clear”.

Diinisiasi Chani Leahong (37), seorang warga negara Inggris, komunitas Clear menggulirkan berbagai program, mulai dari kegiatan pendidikan, kebudayaan, hingga aktivisme lingkungan. Sebuah rumah kayu dua tingkat di tengah perkebunan kelapa menjadi markas komunitas ini.

Rumah yang dirancang dengan arsitektur tradisional ini berada di tepi Sungai Cijulang, dan hanya berjarak beberapa menit berjalan kaki dari Pantai Batukaras. Rumah kayu ini dinamai “Bale ɸ Tau” (Bale Phi Tau) yang mengandung filosofi tentang keharmonisan kehidupan.

Secara sederhana, tempat ini lebih populer dengan sebutan “Bale Tau”, yang bisa dimaknai rumah pengetahuan atau tempat berbagai ilmu pengetahuan. Minggu (6/2) siang, komunitas Clear punya hajatan di Bale Tau.

Kegiatan bertema “Batukaras Clear Award” ini adalah ajang penghargaan bagi warga pegiat lingkungan yang selama ini mengikuti program rutin bersih-bersih pantai Batukaras. Penghargaan diberikan dengan cara unik.

Para relawan yang didominasi anak-anak sekolah, sejak setahun lalu, dibekali selembar “kartu absen”. Dalam setiap kegiatan bersih-bersih pantai, mereka akan mendapatkan satu stiker untuk ditempelkan pada kartu.

Mereka yang memiliki stiker paling lengkap, menerima hadiah paling banyak. Imbalan yang diberikan memang bukan alat-alat elektronik atau gawai, melainkan perlengkapan sehari-hari, seperti kaos, topi, tas atau botol minum. Tetapi bagi warga, jelas sebuah kebanggan menerima anugerah atas hal positif yang mereka lakukan.

“Ini merupakan ajang memotivasi mereka, menghargai mereka yang telah berusaha,” ujar Chani Leahong, relawan penggagas komunitas Clear, ketika dijumpai di sela kegiatan.

Ajang bagi-bagi hadiah ini dihadiri 200-an orang. Semua tampak semringah dan begitu bebas bersenda gurau. Aneka penganan tradisional karya ibu-ibu desa, bisa diambil cuma-cuma.

Wajah anak-anak dan remaja mendominasi kegiatan ini. Tak hanya sebagai penonton, mereka juga menjadi penampil. Mulai dari bocah-bocah SD hingga remaja usia SMA unjuk kebolehan membawakan tari jaipong, tari ronggeng dan pencak silat. Berbagai kesenian ini ditampilkan lengkap dengan iringan gamelan dari komunitas seni lokal.

Dua relawan asing komunitas Clear Batukaras. (Andi Nurroni/SwaraPangandaran.Com)
Dua relawan asing komunitas Clear Batukaras. (Andi Nurroni/SwaraPangandaran.Com)

Tak hanya para remaja setempat, sejumlah relawan warga negara asing, termasuk Chani, juga turut tampil menghibur hadirin. Mereka membawakan drama sederhana tentang pentingnya menjaga lingkungan.  Aksi kocak para bule ini mengundang gelak tawa hadirin.

Tak hanya sekedar berlibur, para relawan asing ini tak ubahnya mengikuti fellowship di komunitas Clear. Hanya mereka yang memiliki keahlian dan menawarkan program yang dibutuhkan, yang diberi kesempatan untuk menjadi relawan.

Chani bercerita, setiap program yang digulirkan komunitas Clear merupakan gagasan warga dan setiap konsep selalu dikonsultasikan dengan warga. Di Bele Tau, menurut Chani, kini warga bisa belajar banyak hal secara gratis, mulai dari Bahasa Inggris, mendaur ulang sampah, kelas yoga dan masih banyak yang lainnya.

Chani menekankan, meski dia merupakan penggagas, dia selalu menempatkan dirinya sebagai relawan, sama seperti yang lainnya. Ketika diwawancara, perempuan asal London ini beberapa kali menyilakan para pemuda relawan lokal untuk menjawabnya.

“Saya tidak ingin semua tentang Chani. Merekalah yang hebat-hebat,” kata dia sembari menunjuk dua rekannya, Wawan dan Rintok.

Chani pun enggan mengubah status komunitas Clear menjadi yayasan, kecuali itu berasal dari inisiatif warga dan ada warga yang bersedia menjadi pemimpin sekaligus penggerak.

Diinisiasi sejak 2013, menurut Chani, kini sudah lebih dari 1500 relawan bergabung dalam berbagai kegiatan komunitas Clear, khususnya aksi bersih-bersih pantai. Ia mengenang, ketika pertama kali dia mulai mengajak warga terlibat dalam program komunitas Clear, sangat sulit untuk menggerakan mereka.

Selain itu, Chani menuturkan, ada juga warga yang punya gagasan-gagasan bagus tapi enggan terlibat dalam kegiatan. Hal yang sering membuat dia miris, menurut Chani, adalah suasana politis di kalangan komunitas di Batukaras.

“Jadi, antara yang satu dengan yang lain seperti bersaing. Padahal kalau bersih-bersih pantai, semakin banyak orang semakin baik,” kata dia dengan Bahasa Indonesia yang lancar.

Melihat apa yang dilakukan Chani dan rekan-rekannya, hal tersebut tentu sebuah inspirasi bagi warga yang memimpikan Kabupaten Pangandaran menjadi tujuan wisata dunia.